Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tantangan Menuju Universitas Berbudaya Wirausaha

Pada era modern saat ini, kekuatan pasar dan kompetisi institusional  berperan sangat besar dalam membentuk sistem pendidikan yang lebih dominan daripada pola pendidikan yang ada di masa lalu, institusi-institusi serupa dapat merencanakan kegiatan-kegiatan yang berbeda dan tidak terlalu bergantung pada tekanan kepentingan negara, fleksibel dalam merebut kesempatan-kesempatan dan memiliki ambisi dalam peningkatan institusional. Walaupun begitu, ada jarak yang membentang di antara institusi-institusi tersebut dan sepertinya institusi tersebut tidak peka dalam beradaptasi atas situasi dan kondisi yang baru.

Tantangan Menuju Universitas Berbudaya Wirausaha
Gambar oleh Pham Trung Kien dari Pixabay 

Gambaran Clark (1998) mengenai Universitas berbudaya wirausaha (UBW) telah  memperoleh status penghargaan di antara model-model  universitas di era abad ke-21. Secara luas didiskusikan oleh para akademisi dan para praktisi serupa, bahwa ’wirausaha’  telah  menerobos wacana  mengenai perluasan pendidikan tinggi hingga seseorang dapat memberikan asumsi yang beralasan  bahwa sebuah revolusi  dalam  manajemen di suatu universitas sedang berlangsung. Namun, tidak serta-merta revolusi yang seperti itu dapat terjadi, paling tidak terlihat di sebagian besar dari sistem pendidikan tinggi di Kerajaan Inggris, karena adanya hambatan-hambatan yang sangat berat dari faktor budaya dan kapasitas pengelolaan, hal ini menjadi dilema yang muncul pada universitas dalam merealisasikan konsep UBW. Sering terjadi pula universitas-universitas yang sangat ingin menerapkan sistem kewirausahaan sebagai suatu elemen dalam melakukan misinya justru paling minim dalam menerapkan cara-cara wirausaha dalam mengelola  aktivitas kesehariannya.

Kesulitan pertama  muncul dalam kata ‘wirausaha’ itu sendiri. Kamus Oxford versi Bahasa Inggris-Prancis abad ke-18, ‘entreprenour’ yang berasal dari Prancis, di gunakan  untuk menggambarkan orang-orang yang memiliki pendapat bahwa penampilan “lain dari yang lain” dengan harapan mendapat keuntungan atau pendapatan yang besar: yaitu orang-orang yang berani mengambil resiko. Namun konsep wirausaha versi Clark lebih luas maknanya, dimana termasuk pula dimensi diversifikasi anggaran sebagai  salah satu elemen yang penting.  Namun, bagaimana anggaran tersebut terdiversifikasi sama pentingnya dengan pola alokasi penggunaan anggaran tersebut. 

Kata ‘wirausaha’ dapat mempunyai arti komersial yang berbeda tetapi alternatif–alternatif seperti ‘inovatif’ atau dengan kata lain menurut Clark ‘fokus’ tidak menunjukkan konsep yang sedang digambarkan, yang lebih mengenai dorongan dalam mengidentifikasi dan mempertahankan agenda institusional yang berbeda, yang secara institusional tidak ditentukan dengan hasil dari rumusan dana pemerintah. Kebanyakan universitas berbeda dari universitas-universitas yang lain. Misi mereka serupa dengan universitas–universitas yang lainnya, seperti universitas dapat memiliki posisi sebagai universitas internasional  dengan mahasiswa yang berasal dari  seratus negara, universitas mereka merupakan  universitas  yang melakukan penelitian-penelitian penting, universitas mereka merupakan universitas yang menempatkan pentingnya  kualitas mengajar & belajar seumur hidup serta mereka bekerja lebih dekat pada konteks lokal kewilayahan.

Strategi rencana universitas yang menekankan pada aktivitas-aktivitas dimana pemerintah memberikan prioritas terhadap bentuk-bentuk penelitian yang relevan dengan konteks lokal kewilayahan dan perluasan partisipasi universitas, karena hal ini merefleksikan dari keinginan pemerintah. Dari sisi pemerintah menginginkan melihat universitas–universitas yang bervariasi namun sumber penghasilan alokasinya dilakukan melalui suatu rumusan dimana rumusan tersebut dirancang untuk memberikan pengaruh pada sistem pendidikan tinggi untuk diarahkan dan pemerintah percaya hal ini akan sesuai. Transparansi pada metode pendanaan digabungkan dengan pola kompetitif alami dari sistem pendanaan yang meletakkan universitas di bawah tekanan untuk mengalokasikan sumber–sumber penghasilannya sehingga  dalam prakteknya  keputusan sumber penghasilan alokasi  internal dan bentuk institusi tersebut diarahkan oleh keputusan teknis yang diambil  oleh dewan keuangan. Strategi institusional, meski terlalu bermuatan misi retoris, menjadi lebih ditentukan oleh tuntutan mahasiswa dan konsekuensi dari rumusan keuangan secara mekanik.

Ketika Clark menggambarkan UBW, beliau tidak memperhitungkan keberadaan dari dana pemerintah namun lebih menekankan pada situasi dimana suatu institusi secara psikologis memiliki kebijaksanaan pemerintah yang bebas masalah untuk menggambarkan strategi individu. Clark menggambarkan otonomi universitas yang sebenarnya. ‘Otonomi’ merupakan  konsep yang bermakna ganda dalam lingkup prinsip-prinsip manajemen publik karena institusi otonomi yang legal mungkin dan biasanya institusi tersebut  terdesak oleh mekanisme keuangan dimana otonomi dilakukan.

Oleh karena itu, universitas-universitas tersebut digambarkan hanya memiliki otonomi pendapatan saja, daripada otonomi pembenahan diri, Clark menuliskannya secara implisit. Perbedaan bentuk dari karakter UBW yakni memiliki kepemimpinan yang tangguh, lingkup fokus pengembangan, keragaman sumber dana, stimulasi heartland akademik dan integrasi budaya usaha. Hal ini semua mencerminkan hasil dari otonomi pembenahan diri yang memiliki kepercayaan diri untuk mengelola keuangan negara dan dana dari berbagai macam sumber seperti pendapatan mandiri, dimana jurusan-jurusan peduli pada rumusan keuangan pemerintah tetapi menerima hak universitas untuk mengalokasikan sumber–sumber pendapatan sesuai dengan prioritas yang ditentukannya, serta mengikutsertakan dalam upaya pengembangan periphery yang sudah menjadi sifat dasar untuk melakukannya bukan karena mereka menarik dana pemerintah, namun demi menghasilkan strategi rencana yang mandiri, bukan sebagai perwujudan strategi yang berasal dari rumusan kebijaksanaan pemerintah.

Maksud dari UBW telah menjadi metafora yang sangat kuat yang disebut Clark sebagai sosok ‘universitas maju’ atau universitas yang percaya diri, suatu universitas yang melakukan upaya-upaya otonomi ‘kemandirian’ daripada otonomi ‘yang telah ditentukan’. Banyak institusi melihat hal ini sebagai  bentuk usaha yang sederhana karena mereka menggerakkan dana non pemerintah dari sumber-sumber penghasilan tradisional seperti biaya mahasiswa dari luar negeri atau penelitian tetapi penggunaan dana tambahan ini dalam konteks rumusan yang dilakukan dengan cara tanpa pertimbangan matang.  Buruknya, setiap universitas sekarang diberikan penghargaan oleh pemerintah untuk mengikuti agenda berbasis wirausaha melalui aliran dana ‘kaki ketiga’ dengan asumsi hasil bahwa kegiatan kewirausahaan itu sendiri merefleksikan kondisi yang terlalu rentan birokrasi, bahkan sebaliknya dapat berpeluang lebih mengekspresikan kebebasan atas hak otonomi universitas untuk menentukan strategi mereka semaunya sendiri.

Posting Komentar untuk "Tantangan Menuju Universitas Berbudaya Wirausaha"