Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Sudahkah Pendidikan di Indonesia Bermakna?

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang mempunyai kurikulum kurang berkembang. Sudah sejak lama kita mempunya kurikulum yang “itu-itu” saja. Hanya baru-baru ini kurikulum berbasis kompetensi dikembangkan. Karena baru dimulai dan dengan segala keterbatasan resource, tentu saja KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) itu belumlah optimal seperti yang diharapkan. 

Sudahkah Pendidikan di Indonesia Bermakna?
https://www.pexels.com/id-id/foto/ajarkan-ornamen-dadu-di-meja-301926/

Kebanyakan kurikulum di beberapa negara adalah kurikulum yang bersifat stagnan. Bahkan Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Rich Kid Smart Kid pernah menyinggung bahwa sistem pendidikan hanya menciptakan karyawan dan tentara. Ini relevan dengan sistem pendidikan di negara kita. 

Pendidikan sering dikaitkan dengan pembelajaran dan pengajaran. Sebenarnya ditinjau dari makna aslinya, kata – kata tersebut mempunyai hakekat pengertian yang berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengejaran dan pelatihan; proses, pembuatan, cara mendidik. Nah, dari situ kita sudah dapat menyimpulkan bahwa makna pendidikan mempunyai cakupan yang lebih luas dari kata pembelajaran dan pengajaran. Makna kata pembelajaran dan pengajaran termasuk dalam kata pendidikan. 

Jadi, pendidikan bermakna merupakan suatu proses pengajaran, pembelajaran seseorang sehingga berkembang menuju kedewasaan sesuai dengan karakternya. Hasil dari pendidikan seharusnya tidak homogen pada setiap orang karena setiap orang mempunyai watak / ciri khas masing-masing. Maksud dari kedewasaan adalah mempunyai kemampuan atau kecerdasan yang sesuai dengan karakter. Hal inilah sesungguhnya substansi dari pendidikan. Jadi bukan hanya semata-mata memberikan materi atau pelajaran saja, akan tetapi mencakup proses perkembangan seseorang menuju pribadi yang mempunyai kelebihan dan siap mengarungi kehidupan.

Sesungguhnya sistem pendidikan kita lebih pantas disebut dengan sistem pembelajaran atau pengajaran. Masih sedikit proses pendidikan (sesuai dengan pengertian yang dijelaskan di atas) yang termaktub. Orang-orang yang mengaku pendidik, lebih banyak memberikan pembelajaran ketimbang bagaimana anak didiknya berkembang dan mempunyai bakat tertentu. Anak didik seolah dipaksa untuk mempunyai harus mempunya “output” yang sama semua. Keahlian di luar akademis seolah dikesampingkan, walaupun saat ini mulai dikembangkan.

Kesuksesan seseorang tidak hanya dinilai dengan kemampuan akademis di bangku sekolah. Untuk menjadi sukses masih banyak kecerdasan-kecerdasan di luar akademis yang dibutuhkan. Walaupun keahlian akademis juga tetap mempunyai arti. Kita lihat bahwa kenyataan di masyarakat banyak lulusan PT (perguruan tinggi) yang hanya berpangku tangan menunggu pekerjaan.

Kecerdasan seseorang itu natural dan tidak dipaksakan. Seseorang bisa saja mempunyai keahlian atau kecerdasan lebih dari satu. Oleh karena itu formula yang digunakan seseorang untuk sukses mengarungi hidup akan berbeda-beda. Perkembangan kecerdasan seseorang selalu kontinu dan tidak mungkin langsung begitu saja ditemukan. Hal ini karena terpengaruh oleh berbagai lingkungan dimana seseorang berkecimpung, dan input pendidikan lain yang masuk ke diri seseorang.

Di Indonesia, anak didik lebih mengarah diajari belajar “bagaimana”, atau learn how. Itu artinya kita lebih diarahkan untuk “bercerita” dan “berteori”. Ini sebenarnya tidak buruk, tapi yang membuat kurang berarti adalah pelaksanaan/praktiknya tidak diajarkan. Sehingga secara mudahnya kita lebih banyak hanya diajari konsep atau teori mengenai sesuatu tanpa pernah mencoba atau mengalaminya sendiri. Konsep sistem pendidikan yang lebih maju adalah dengan learn about dan learn with.

Salah satu konsep yang bisa dicontoh dari beberapa negara maju adalah penggunaan kurikulum berbasiskan masalah. Jadi anak didik awalnya diberikan masalah, lalu mencoba menyelesaikannya sendiri. Setelah itu, baru diberikan bagaimana sebenarnya permasalahan/persoalaan itu terpecahkan. Keunggulan kurikulum itu ialah anak didik bisa berkecimpung langsung dengan permasalahan, mempelajari masalah itu, dan mencoba memecahkannya.

Beberapa Universitas di negara kita mulai mengembangkan kurikulum semacam ini. Bahkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, riset dan teknologi beberapa tahun ini mengembangkan kurikulum berbasis luaran sebagai bagian dari Outcome Based Education (OBE). Kementerian yang satu ini pun meluncurkan konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) untuk mencapai tujuan outcome based education. Intinya, peserta didik diberikan kebebasan memilih mata kuliah untuk membekali kompetensi mereka secara lintas program studi, Fakultas bahkan perguruan tinggi.

 

Posting Komentar untuk "Sudahkah Pendidikan di Indonesia Bermakna?"