Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

UMKM Go Digital di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 yang telah belangsung selama satu tahun lebih berdampak sangat siginifikan terhadap sektor pendidikan, kesehatan, dan perekonomian di dunia.  Tidak ada satu negara pun yang terhindar dari serangan makhluk kecil ini. Seluruh negara berupaya semaksimal mungkin mencari solusi atasi wabah ini. Prioritas mana yang harus didahulukan penanganannya membuat para pemimpin negara mengerutkan dahi - berpikir keras.

UMKM go digital di tengah pandemi

Sobat saung blogger kampus yang memiliki bisnis pastinya merasakan beban berat menghadapi pandemi Covid-19. Tantangan ini juga dirasakan para pelaku UMKM secara umum. Kinerja bisnis selama lebih dari setahun masa pandemi menurun drastis. Bahkan tidak sedikit dari mereka terpaksa menutup usaha akibat merosotnya daya beli masyarakat dan juga perubahan pola konsumsi masyarakat. Pertanyaan yang kerap muncul adalah kapankah pandemi ini akan berakhir?

Beruntung bagi sebagian UMKM yang masih bertahan di masa-masa seperti ini akibat mereka mampu mengantisipasi perubahan pola konsumsi masyarakat. Jauh sebelum serangan virus kecil ini memporak-porandakan kehidupan perekonomian, pergeseran pola belanja dari offline ke online mengalami peningkatan pesat. Jujur harus kita akui perkembangan teknologi digital memicu perubahan pola belanja masyarakat terutama yang tinggal di kota-kota besar.

Nah pada saat semua orang harus tinggal dirumah karena pergerakan dibatasi, belanja online merupakan pilihan alternaif yang ada. Tanpa khawatir terpapar virus, aktifitas belanja kebutuhan tetap terpenuhi. Tren ini nampaknya akan berlanjut terus meski pandemic telah berakhir seiring dampak revolusi industry 4.0.

Pelaku bisnis tentunya harus segera bertransformasi menyesuaikan kondisi lingkungan ekternal yang terjadi. Proses bisnis telah berubah di era 4.0. Bisnis offline dengan biaya operasional tinggi tergerus dengan model online. Tidak heran muncullah beragam platform bisnis baru berbasis digital, sebut saja sharing economy model seperti Gojek dan Grab. Di sektor keuangan, kehadiran financial technology (fintech) mempermudah transaksi keuangan. Pasar tradisional berubah ke marketplace digital seperi Bukalapak, Lazada, Tokopedia, dan sejenisnya. Setiap marketplace tentu berlomba menawarkan beragaman manfaat baik bagi pembeli maupun penjual online.

Terinspirasi trend peningkatan jumlah marketplace virtual sekaligus membantu UMKM naik kelas, beberapa dosen Fakultas Ekonomi Universitas NegeriJakarta mengembangkan lapaksenggol.com sebagai wujud pengabdian kepada masayarakat. Lapaksenggol.com merupakan sebuah marketplace bagi pelaku UMKM dan juga pembeli produk-produk UMKM. Kehadiran marketplace gratis ini diharapkan mampu menjadi pendorong UMKM naik kelas dan berkontribusi lebih terhadap perekonomian nasional. Data empiris membuktikan bahwa hampir 60 juta entitas UMKM menopang produk domestic bruto negara ini. UMKM juga mampu menyerap tenaga kerja cukup signifikan.

Lalu apa manfaat bagi pelaku UMKM bergabung di lapaksenggol.com? Platform ini dibuat bukan hanya sekedar menyediakan lapak online bagi UMKM, namun juga memberikan manfaat lainnya semisal digitalisasi bisnis, konsultasi bisnis, dan transaksi jual beli tercatat secara online. Selain itu, desain yang interaktif dan fasilitas analisis keuangan memudahkan proses bisnis pelaku UMKM. Sementara itu, pembeli juga memperoleh manfaat berupa aplikasi marketplace yang user friendly, berinteraksi langsung dengan pelapak terkait spesifikasi, harga dan kualitas produk, dan tentunya bisa nego harga langsung dengan penjual.

Nah bagi para blogger yang sedang berbisnis atau berencana memulai usaha, tidak ada salahnya memanfaatkan lapaksenggol.com sebagai wahana meningkatkan omset penjualan barang dan jasanya. Selain gratis, toh banyak manfaat yang akan diperoleh teman-teman blogger manakala membuka lapak di platform ini. Yuk segera daftarkan bisnis kalian dan ajak pelaku UMKM lainnya untuk bergabung! 

2 komentar untuk "UMKM Go Digital di Tengah Pandemi"