Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Blog Ungkit Kinerja UMKM

Fakta bahwa jumlah UMKM di Indonesia mendekati angka 60 juta entitas dan berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja, mendorong pemerintah berupaya keras melakukan pemberdayaan terhadap para pelaku UMKM. Ajakan pemerintah agar UMKM go digital perlu mendapatkan dukungan kita semua. Hal ini dimaksudkan agar UMKM di tanah air naik kelas. UMKM diharapkan mampu mengoptimalkan teknologi digital untuk mendobrak kinerja bisnisnya. Bisnis proses yang selama ini diterapkan secara konvensional seyogianya ditransformasi berbasis digital. 

saung blogger kampus
Gambar oleh mohamed Hassan dari Pixabay 

Jujur harus diakui bahwa UMKM kita sulit berkembang apalagi harus naik kelas.  Sebagian besar kinerja bisnis mereka terkendala berbagai hambatan.Berbagai hasil penelitian yang dilakukan kalangan dunia kampus menyimpulkan setidaknya ada empat persoalan yang dihadapi UMKM. 

Pertama, keterbatasan akses modal. Sebagian besar UMKM tidak bankable. Mereka tidak memiliki anggunan yang bernilai sebagai jaminan pengajuan kredit modal kerja. Aset tetap tidak sebesar aset yang dimiliki kelompok usaha skala menengah bahkan besar. Kalaupun mereka memiliki aset tetap rumah misalnya, itu tentu berfungsi untuk tempat tinggal sekaligus tempat produksi. Resiko tinggi manakala rumah dijadikan agunan kredit dan bisnis tidak berkembang sesuai harapan.

Kedua, manajemen keuangan yang lemah. Sebagian besar pelaku UMKM tidak menganggap penting arti tata kelola keuangan yang baik. Catatan keuangan dibuat seadanya hanya untuk kepentingan sendiri. Padahal untuk mengajukan kredit biasanya lembaga keuangan atau investor meminta menyertakan laporan keuangan 3 tahun terakhir sesuai prinsip dan kaidah akuntansi yang benar. Pelaku UMKM juga secara sadar atau tidak kerap hanya membuka satu rekening bank. Rekening bercampur untuk kegiatan usaha dan juga keperluan pribadi/ keluarga. 

Ketiga, rendahnya kualitas sumberdaya manausia. Hampir sebagian besar usaha kecil melibatkan tenaga kerja dari keluarga, kerabat atau tetangga sekitar. Budaya masyarakat kita yang kental dengan rasa sungkan menyebabkan sumberdaya manusia UMKM dikelola secara tidak profesional. Alasan tidak enak untuk berlaku tegas terhadap pekerja yang notabene adalah keluarga sendiri, secara perlahan membuat usaha sulit berkembang. Meski pegawai tersebut melakukan kesalahan fatal.

Keempat, akses pasar terbatas. Strategi pemasaran dibuat seadanya. Mengandalkan word by mouth, memang tidak salah. Media promosi yang digunakan selama ini bersifat tradisional. UMKM lebih mengandalkan brosur dan spanduk cetak untuk memperkenalkan produknya ke konsumen. Media promosi semacam ini sangat terbatas jangkauanya. UMKM seyogianya memanfaatkan kehadiran teknologi digital dalam akitifitas pemasaran produk.

Khusus untuk kendala pemasaran, Saatnya pelaku UMKM menerapkan digital marketing. Di era Internet of Things (IoT) saat ini biaya promosi menjadi lebih murah dan efisien. Murah karena sosial media tumbuh berkembang dengan jumlah penggunanya meningkat setiap tahun. Tentu ini merupakan peluang pasar yang besar. Efisien karena jangkauan promosi menjadi tidak terbatas secara lokal. Pemasaran digital mampu menjangkau calon konsumen potensial pada skala nasional bahkan global.

Pelaku UMKM dapat memanfaatkan blog sebagai media jualan online sekaligus promosi produk. Blog yang diawal kemunculannya hanya dimanfaat untuk memposting sekedar unek-unek dan catatan pribadi semata, fungsinya saat ini mulai bertambah. Tren pebisnis menggunakan blog untuk transaksi online meningkat pesat.

Pelaku UMKM dapat buka toko online di blog tanpa harus memiliki toko secara fisik. Meski sekarang tersedia lapak online di beberapa market place secara gratis maupun berbayar, seringkali konsumen tidak mendapatkan informasi lengkap terkait produk yang ditampilkan di marketplace. Oleh karenanya, membuat blog toko online sendiri akan memudahkan konsumen menelusuri informasi lebih jauh tentang produk. UMKM juga lebih bisa berkreatifitas karena mengelola sendiri toko onlinenya.

Membuat toko online di blog tentu membutuhkan pengetahuan dan keahlian tersendiri. Pelaku UMKM yang merencanakan pembuatan took online tidak perlu khawatir. Informasi tentang tips dan trik membuka toko online dengan platform blog bertebaran di mesin pencarian di google. Selain itu, template blog banyak tersedia secara gratis maupun berbayar.

Rajin mengikuti pelatihan dan workshop pembuatan blog seyogianya dilakukan pelaku UMKM. Manfaatkan tawaran pelatihan dan workshop pembuatan blog secara gratis yang biasanya diselenggarakan perguruan tinggi. Program-program semacam ini biasanya dipayungi dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.Jika sudah memiliki blog toko online, jangan lupa bergabung di komunitas blogger seperti Saung Blogger Kampus misalnya. 

Beragam peluang mengatasi kendala pemasaran produk terbuka luas. Pada akhirnya, semua dikembalikan ke para pelaku UMKM sendiri apakah mau menyisihkan waktu untuk belajar memahami dan mendalami strategi digital marketing, khususnya blog atau "status quo" dengan bisnis konvensional selama ini. Potensi meningkatkan penjualan produk melalui blog harus dioptimalkan agar UMKM naik kelas sesuai harapan pemerintah. 

2 komentar untuk "Blog Ungkit Kinerja UMKM"